Tau enggak silsilah keluargaku kayak apa?
Ini bukan untuk narsis-narsisan lo tapi emang kenyataannya begitu hehe.
Setelah saya tau kebenaran kisah kakekku ( dari pihak ayah )yang sekarang masih hidup berumur 85 tahun serta merupakan mantan pejuang dan mantan lurah pada zaman kemerdekaan, ternyata silsilah keluargaku bikin aku kaget. Gimana enggak, ternyata aku masih keturunan Prabu Jayabaya yang merupakan raja dari Kerajaan Kediri yang memimpin pada tahun 1135 – 1157. Beliau terkenal dengan ramalannya baik tentang Indonesia maupun dunia pada masa yang akan datang.Sebagai catatan ya keluarga saya tinggal tidak jauh dari bekas kerajaan Kediri di Jawa Timur.
Jadi aku masih keturunan bangsawan dong???
Ya bisa dikatakan begitu namun walaupun bangsawan tetep aja enggak ada bedanya dengan yang lain. Sama -sama manusia yang makan, tidur, hidup, dan mati.
Aku juga mendengar kisah silsilah keluargaku dari ayahku sendiri. Malah beliau pernah menunjukkan silsilah tersebut yang sekarang disimpan oleh salah satu sanak keluargaku. Sebenarnya aura kebangsawanan keluargaku sudah terasa semnejak aku dilahirkan. Gimana enggak, rumah kakek nenek buyutku aja masih rumah Joglo asli Jawa yang masih terjaga keasliannya dengan ukiran-ukiran Jawa seperti di sinetron-sinetron seperti Tutur Tinular, dll ( asal buka film mak lampir ya hehehe). Selain itu sebagai bukti lain adalah hampir semua orang yang ada di daerahku masih berhubungan dekat dengan kakek nenek buyutku dan mereka masih mengenal dengan jelas keluargaku. Hal tersebut merupakan suatu aura yang menandakan bahwa ada keterkaitan kakek nenek buyutku tersebut dengan Kerajaaan Kediri terutama Prabu Jayabaya.
Hal itu masih bisa dirasakan sekarang. Jika ada reuni yang diadakan tiap 2 tahun sekali di rumah Joglo nenek buyutku yang sekarang juga masih hidup, dapat dibayangkan enggak dari 6 orang anak dari nenek buyutku terkumpul sekitar 150 orang. Banyak sekali kan!
Jika temen-temen belum mengenal Prabu Jayabaya siapa, ne cerita singkatnya.
Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).
Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala.
Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.
Read More…