Posted by: urise | January 28, 2009

Ternyata aku masih keturunan Bangsawan Jawa

Setelah saya tau kebenaran kisah kakekku ( dari pihak ayah )yang sekarang masih hidup berumur 85 tahun serta merupakan mantan pejuang dan mantan lurah pada zaman kemerdekaan, ternyata silsilah keluargaku bikin aku kaget. Gimana enggak, ternyata aku masih keturunan Prabu Jayabaya yang merupakan raja dari Kerajaan Kediri yang memimpin pada tahun 1135 – 1157. Beliau terkenal dengan ramalannya baik tentang Indonesia maupun dunia pada masa yang akan datang.Sebagai catatan ya keluarga saya tinggal tidak jauh dari bekas kerajaan Kediri di Jawa Timur.

Jadi aku masih keturunan bangsawan???

Ya bisa dikatakan begitu namun walaupun bangsawan tetep aja enggak ada bedanya dengan yang lain. Sama -sama manusia yang makan, tidur, hidup, dan mati.

Aku juga mendengar kisah silsilah keluargaku dari ayahku sendiri. Malah beliau pernah menunjukkan silsilah tersebut yang sekarang disimpan oleh salah satu sanak keluargaku. Sebenarnya aura kebangsawanan keluargaku sudah terasa semnejak aku dilahirkan. Gimana enggak, rumah kakek nenek buyutku aja masih rumah Joglo asli Jawa yang masih terjaga keasliannya dengan ukiran-ukiran Jawa seperti di sinetron-sinetron seperti Tutur Tinular, dll ( asal buka film mak lampir ya hehehe). Selain itu sebagai bukti lain adalah hampir semua orang yang ada di daerahku masih berhubungan dekat dengan kakek nenek buyutku dan mereka masih mengenal dengan jelas keluargaku. Hal tersebut merupakan suatu aura yang menandakan bahwa ada keterkaitan kakek nenek buyutku tersebut dengan Kerajaaan Kediri terutama Prabu Jayabaya.

Hal itu masih bisa dirasakan sekarang. Jika ada  reuni yang diadakan tiap 2 tahun sekali di rumah Joglo nenek buyutku yang sekarang juga masih hidup, dapat dibayangkan enggak dari 6 orang anak dari nenek buyutku terkumpul sekitar 150 orang. Banyak sekali kan!

Jika temen-temen belum mengenal Prabu Jayabaya siapa, ne cerita singkatnya.

Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

Kemenangan Jayabhaya atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.

Nah itu tadi baru cerita dari pihak ayahku. Jika dilihat dari pihak ibuku ternyata aku juga masih keturunan kerajaan Mataram alias yang sekarang dikenal dengan Keraton Ngayogyakarta. Sebagai bukti ni kakek saya dari pihak ibu bergelar Raden Siswoto Hadisudarmo dan masih keturunan Pangeran Diponegoro yang merupakan pahlawan nasional itu.

Jelas banget kan kalo aku baik dari pihak ayah maupun ibu masih berketurunan bangsawan. Tapi mau bangsawan atau enggak tetap sama aja. Akau tetep sebagai orang yang biasa kok and aku tetep friendly juga terhadap semua orang tanpa mengenal suku agama mapun budaya. So keep friendship ya!!


Responses

  1. Gw juga…
    bangsawan toraja tapinya…
    hohohoho…
    dari mak gw…

  2. yuris, maaf ya! yang diatas bukan gw yang nulis. jangan di approve yah! si kiki lagi agak-agak stres tuh. hoho.

    eh, lo keturunan bangsawan yah? hoho. kok gak ada gelarnya? udah putus ya gelarnya? hehe.

    sukses slalu yur, gw link yahh.

    yang diatas jangn di approve yah! plis2x bgt. hehe. thx.

  3. yur, gua aja yang keturunan bangsawan aja gak ngaku-ngaku… ==’


Categories

%d bloggers like this: